Rabu, 23 Agustus 2017

Ternyata Oral Seks Dibolehkan Dalam Islam, Benarkah?

Bolehkah Oral Seks (Menjilat Kemaluan) dalam Islam ?


Banyak pertanyaan seputar masalah oral seks. Oral seks oleh sebagian pasangan dianggap sebagai salah satu variasi gaya yang dapat menambah gairah untuk menambah daya sensasi dan kenikmatan saat berhubungan intim. Baik oral seks yang dilakukan oleh suami pada istri (cunilingus) atau sebaliknya, istri yang melakukan oral pada suami (fellatio).

Dalam Islam variasi gaya dibolehkan bahkan dipersilakahkan untuk melakukan. Tidak tanggung-tanggung masalah variasi gaya disebutkan dalam AlQuran.

Bagaimana dengan Oral Seks?

Para ulama sejak dulu hingga sekarang masih bersilang pendapat. Mereka terbagi atas tiga pendapat yang sama-sama kuat, yakni : haram (dilarang), makruh (dihindari) dan mubah (dibolehkan). Mana pendapat yang  benar? Wallahu a’lam.


Pendapat Yang Mengharamkan


Ulama yang mengharamkan beralasan karena najisnya madzi (sekresi)  saat syahwat (terangsang) menjadi sebab musabab diharamkannya oral seks. Semua ulama sepakat bahwa madzi  adalah najis. Maka saat oral seks hampir dipastikan sulit untuk dihindari menelan madzi dari kelamin, baik dari suami maupun istri.

Dalilnya : Dari ‘Ali bin Abi Tholib RA, dia berkata, “Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku perintah seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantaran posisiku sebagai menantu beliau (maksudnya Ali malu bertanya sendiri). Jawaban Rasulullah, “Wudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Bukhari No. 269)

Hadits ini menunjukkan kenajisan madzi. Keluar madzi tidak wajib mandi besar namun lendir (cairan)-nya najis. Pakaian/ celana yang terkena tidak bisa dipakai untuk sholat kecuali dibasuh atau disucikan terlebih dahulu. Karena madzi adalah najis maka ia haram tertelan.

Alasan lainnya, karena oral seks merupakan cara binatang dan kita dilarang menyerupai binatang. Wallahu A’lam.

Pendapat Yang Memakruhkan


Oral seks bisa jadi hanya menjilat dan belum tentu menelan madzi. Mulut yang terkena madzi, sama saja dengan kemaluan suami yang juga menyentuh madzi istri ketika berhubungan badan. Sebab saat bercinta otomatis madzi tersebut mengenai kemaluan pasangannya. Jika itu boleh, apa bedanya jika mengenai anggota tubuh lainnya seperti mulut. Hanya saja, hal tersebut dianggap menjijikkan dan kurang berakhlak.

Mulut dan lidah adalah alat untuk berdzikir dan membaca Al Quran. Sungguh tidak pantas digunakan untuk hal-hal yang menjijikkan tersebut. Oleh karena itu hukumnya adalah makruh, tidak sampai haram.

Jangankan menjilat, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa melihat kemaluan istri itu hukumnya makruh seperti yang masyhur dari Imam Al Ghazali Rahimahullah. Namun, dalil-dalil larangan melihat kemaluan istri tidak kuat dan bertentangan dengan hadits-hadits lain yang membolehkannya.

Pendapat Yang Membolehkan (Mubah)


Mereka berpendapat bahwa suami bagi istri atau istri bagi suami adalah halal seluruhnya kecuali dubur (anal) dan vagina ketika haid.

Pendapat bahwa melakukan oral seks haram dan merusak akhlak karena cara seperti itu menyerupai binatang berhubungan badan adalah alasan yang lemah.

Suatu saat Umar bin Al Khathab menjima’ istrinya dari belakang (doggy style) yang jelas-jelas menyerupai gaya binatang saat berhubungan badan. Hal itu ternyata dibolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal sebelumnya Umar bin Khothob sempat merasa bersalah karena bukan kebiasaan bangsa arab saat itu.

Demikian juga Oral seks yang bukanlah kebiasaan orang Timur. Orang-orang barat yang liberal itu yang biasa melakukannya. Hal itu tidak berarti bahwa oral seks dilarang untuk orang-orang timur yang masih memegang akhlak dan budaya lokal.

Alasan menjijikan juga bukan alasan yang kuat. Sebab jijik atau tidak sifatnya relatif dan personality (pribadi). Tidak sama pada masing-masing orang. Sahabat Nabi, Khalid bin Walid pernah makan Dhab (mirip biawak) di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah tidak melarangnya meskipun Nabi tidak suka.

Dalam riwayat shahih, Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyuruh suku Urainah meminum air kencing Unta untuk obat. Padahal, bisa jadi bagi sebagian orang kencing unta itu menjijikan. Riwayat itu dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa air kencing unta itu halal. Walhasil, masalah ‘perasaan’ jijik bukanlah ukuran dan alasan diharamkannya sesuatu.

Pendapat yang membolehkan juga beralasan pada ayat berikut:

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka datangi tanah tempat bercocok tanahmu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon