Selasa, 15 Agustus 2017

Sejarah Lengkap Persebaya, Bonek dan Jancuk

Sejak zaman Mojopahit, Surabaya adalah kota yang memiliki banyak cerita dan lebih maju daripada kota-kota lain. Terlebih sejak abad ke-19, selain sebagai kota pelabuhan, Surabaya juga kota dagang dan industri terbesar di Hindia Belanda. Bahkan saat itu lebih besar dari Batavia (Jakarta).

Ekonominya sangat maju. Kehidupan masyarakatnya sudah kosmopolitan. Karakter masyarakatnya khas. Tidak seperti di Batavia di mana sebagai pusat pemerintahan yang banyak aturan, kalau Surabaya adalah wilayah bisnis dan industri yang agak berjarak dari kekuasaan, lebih terbuka, tidak kelihatan sopan santun seperti di wilayah-wilayah lain seperti Yogyakarta atau Surakarta yang ada kerajaan. Orangnya cenderang blak-blakan.

Karena masyarakatnya selalu menempatkan diri sebagai suatu wilayah yang merdeka dari kekuasaan pusat. Surabaya bahkan disebut sebagai kota paling Eropa di Hindia Belanda.

Cikal Bakal Berdirinya Persebaya


Tidak afdhol membahas Surabaya tanpa mengaitkan dengan klub kebanggaan Arek-arek Suroboyo, Persebaya Surabaya. Secara historis, Persebaya punya perjalanan panjang dalam perkembangan kota Surabaya.

Cikal bakal Persebaya, dimulai saat didirikan SIVB (Soerabaiasche Indische Veotbal Bond) pada tahun 1927 sebagai klub. Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Jun 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya bernama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).


Pada saat itu di Surabaya juga ada klub bernama Sorabaiasche Voebal Bond (SVB). Bonden (klub) ini berdiri pada tahun 1910 dan pemainnya adalah orang-orang Belanda yang ada di Surabaya. Jika menggunakan patokan ini maka saat ini usia Persebaya sudah lebih dari satu abad.

Setelah Belanda kalah dari Jepang, pada 1943 SIVB yang hampir semua pemainnya bumiputera dan sebagian kecil keturunan Tionghoa berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Pada era ini Persibaja diketuai oleh Dr. Soewandi.

Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada era perserikatan ini, prestasi Persebaya juga istimewa. Persebaya adalah salah satu raksasa perserikatan selain PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung maupun Persija Jakarta.

Pada 2011 sempat berganti nama menjadi Persebaya 1927 akibat dualisme kompetisi liga yang berujung pada munculnya dua Persebaya. Namun pada 2016 kembali menggunakan nama Persebaya Surabaya setelah menang gugatan hak atas logo dan merk Persebaya Surabaya.

Green Force, Gajah Ijo, Bledug Ijo, Green Force Lagi


Persebaya juga terkenal dengan nama Green Force dengan logo orang mangap. Istilah ini sangat populer hingga terkadang penyebutan Green Force lebih dominan daripada nama aslinya.

Jawa Pos punya andil dalam mempopulerkan istilah ini. Hal sama ketika berani menjuluki Persebaya dengan nama "Gajah Ijo". Gajah merujuk pada insiden sepak bola gajah ketika Persebaya mengalah 12-0 dari Persipura Jayapura. Kemudian berevolusi jadi "Bledug Ijo". Bledug berarti anak gajah dan tetap saja merujuk pada hal negatif.



Menurut Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, istilah gajah adalah ejekan. Agar tidak emosi atau merasa terhina oleh ejekan itu sekalian dijadikan nama kebanggaan. Maka ketika Persebaya dengan tim yang ekstrim sangat muda-muda menunjukkan tanda-tanda melejit, diberi nama tim itu bledug ijo. Dan benar, bledug ijo juara Piala Utama pada 1990.

Julukan ini hanya bertahan setahun. Jawa Pos mengembalikan lagi penulisan julukan Bledug Ijo menjadi Green Force. Pengubahan nama itu bahkan ditulis dalam berita khusus berjudul "Mereka bukan Bledug Ijo Lagi"

Sejarah Lahirnya Bonek dan Tret Tet Tet



TIDAK ada yang tahu kapan dan oleh siapa kata "Bondo Nekat"  pertama kali disebut. Sebutan untuk suporter Persebaya itu muncul sendiri di tengah publik. Istilah bondo nekat itu sudah menjadi idiom yang berlaku umum di sebagian masyarakat jawa timur sejak lama.

Idiom ini biasa dipakai untuk menujukkan keberanian membuat keputusan tanpa modal atau tanpa pikir panjang. Misal, berani nikah tanpa punya pekerjaan. Atau berani bisnis tanpa keahlian dan modal. Dalam kasus suporter persebaya ini berani mendukung persebaya saat tandang tanpa memiliki uang sepeserpun. "Yang Penting Berani" itu kemudian berevolusi menjadi slogan identitas Bonek yang terkenal, "Salam Satu Nyali - WANI"

Kapan pertama kali "Bonek" disebut untuk sebagai suporter Persebaya?  Jawabnya ada di Jawa Pos edisi 8 November 1988. Ada berita tentang banyaknya penumpang gelap yang ikut hadir di kandang lawan saat menghadapi PSIS Semarang pada kualifikasi wilayah timur di Stadion Citarum, Semarang.


Suporter yang terdaftar mencapai 1000 orang. Namun yang datang mencapai 1500 orang. Penumpang gelap tanpa tiket itulah oleh media disebut dengan bondo nekat alias "Bonek".

Munculnya Bonek tak lepas dari gerakan tret-tet-tet yang sedang populer saat itu.

Istilah tret tet tet lahir ketika Persebaya melaju ke babak enam besar kompetisi Perserikatan 1986/1987. Istilah ini dari suara terompet yang berbunyi 'tet, tet, tet!'. Bunyi itu dijadikan seruan di halaman depan pojok kiri bawa yang menghabiskan dua kolom koran Jawa Pos edisi 4 Maret 1987.

Kemudian "tret tet tet" itu pun menjadi istilah laga tandang bagi pendukung Persebaya. Kalo sekarang istilah "tret tet tet" lebih dikenal dengan istilah laga tandang, bertandang atau away days. Tapi bagi pendukung Persebaya, istilah ini menjadi identitas khusus saat mendatangi kandang lawan.

Pada era itu dukungan suporter semakin deras ketika Persebaya bangkit pada kompetisi Perserikatan 1986/1987 hingga menjadi juara kedua. Pada laga puncak itulah nama tret tet tet semakin sah menjadi ikon saat mendukung Persebaya saat pertandingan di luar Surabaya.

Antusias mendukung Persebaya saat berlaga tandang tak terbendung juga bagi mereka yang tak punya uang. Minimnya bekal membuat mereka jadi tak terkendali bahkan kadang berujung pada keonaran. Karena itu kata bonek awalnya adalah cap yang negatif.

Gairah mendukung Persebaya yang semakin besar membuat tret-tet-tet menjadi suatu budaya pop yang sedang digemari khususnya anak-anak muda. Semakin banyak pula para bondo-bondo nekat. Hal ini membuat pihak-pihak terkait kesulitan untuk mengontrol mereka.

Pada final Perserikatan 1990 menghadapi Persib Bandung Persebaya kalah 2-0 dari Persib. Kekalahan itu ditambah dengan lemparan batu dan ledekan orang di Cikampek yang meneriaki suporter Persebaya sebagai "Rombongan suporter kalah main". Sontak saja arek-arek Suroboyo mengamuk dan merusak 35 stasiun dari Cikampek hingga Jogjakarta. Dan hampir semua media di nusantara memberitakan kejadian tersebut. Bonek semakin terkenal se Indonesia Raya sebagai suporter tukang bikin onar.

Meski mulai diperkenalkan pada tahun 1988, penyebutan suporter Persebaya sebagai Bonek mulai massif dilakukan koran-koran pada Liga Indonesia I 1994/1995.

Sejak tahun 1994 itu hampir semua berita menyebut suporter Persebaya sebagai Bonek. Tentang penyebutan ‘Bonek’ di Jawa Pos dan koran-koran lainnya menurut Dahlan Iskan itu memang disengaja. Tujuannya adalah untuk menghilangkan stigma negatif mereka.

Menurutnya ejekan itu harus dijadikan sesuatu yang tidak terasa sebagai ejekan. Bahkan sebagai perekat. Hal semacam ini sudah biasa di Surabaya. “Bukankah kata jancuk itu awalnya kotor tapi lantas jadi lambang keakraban?" kata Dahlan Iskan.

Perjuangan Heroik Bonek Membela Persebaya Yang Asli


Masyarakat Surabaya memiliki karakter yang tegas dalam bersikap dan tidak ragu melawan kesewenang-wenangan. Sikap itulah yang ditunjukan oleh Bonek dalam beberapa waktu terakhir ini selama melakukan aksi 'Bela Persebaya' akibat pembekuan dari PSSI sejak 2013.

Pembekuan itu dianggap kesewenang-wenangan yang dilakukan PSSI. Pasalnya PSSI yang lebih mengakui status Persebaya ciptaan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) daripada PT Persebaya Indonesia (PI). Padahal, Bonek menganggap Persebaya yang asli adalah kesebelasan yang digawangi PT PI dan kini diakuisisi PT Jawa Pos Sportaiment.

Akhirnya, Persebaya yang asli bagi Bonek itu akhirnya dipulihkan kembali statusnya pada Kongres PSSI 8 Januari lalu.

Perjuangan Bonek sekitar empat tahun lebih itu pun disambut bahagia dan "Persebaya yang asli" bagi mereka sudah bisa berkompetisi resmi lagi pada tahun ini. Alhasil, Bonek pun menjadi pahlawan sepakbola di masyarakat Surabaya.

Agen Resmi ABE, SMS/WA: 0816520973. Melayani pengiriman via JNE, Pos, Gojek, juga melayani COD


EmoticonEmoticon